SHORTCOURSE DI NEGERI BELANDA

Tertarik untuk mengikuti shortcourse di negeri Belanda?

Bagi dosen atau mahasiswa yang tertarik untuk mengikuti kursus singkat bidang peternakan di negeri Belanda, saat ini dibuka kesempatan untuk mendaftar. Informasi ini diperoleh dari Francien Trapman (Recruitmen Officer PTC+) melalui Ibu Dewi Sopiah, yang merupakan alumnus Fakultas Peternakan Unsoed yang saat ini bekerja di SEAMOLEC. Program tersebut didanai oleh Bank Dunia (World Bank). Informasi lebih lanjut, bapak/ibu dosen dan mahasiswa bisa menghubungi beliau melalui email dewi@seamolec.org.  Lembaga yang mengelola kegiatan ini adalah PTC Plus (www.ptcplus.com).

Topik shortcourse yang tersedia untuk tahun 2013 bisa diunduh DISINI

Form aplikasi untuk tahun 2013 bisa diunduh DISINI

KALSIUM PADA PEMBUATAN KEJU

Kalsium merupakan mineral yang penting dalam proses pembuatan keju. Ion Ca++ berpengaruh besar terhadap proses koagulasi kasein susu oleh rennet, khususnya pada tahap agregasi. Terbentuknya gumpalan kasein (yaitu dadih atau curd) tergantung pada ketersediaan kalsium terlarut dan juga level koloid kalsium. Artikel Selengkapnya

MATERI KULIAH

Helllo semua,

Jika anda membutuhkan materi kuliah silahkan kunjungi laman ilmupeternakan.wordpress.com

KARAKTERISTIK DAN MANFAAT SUSU KAMBING

Pada banyak aspek, karakteristik susu kambing berbeda dari susu sapi. Perbedaan tersebut diantaranya (1) susu kambing mempunyai ukuran partikel lemak yang lebih kecil, (2) mengandung asam lemak rantai pendek dan sedang (C4:0-C12:0) yang lebih tinggi, dan (3) menghasilkan gumpalan protein yang lembut sehingga menyebabkan susu kambing lebih mudah dicerna dan menyebabkan metabolisme lipid yang lebih sehat (Park et al., 2007). Tingkat kecernaan susu kambing terkait dengan ukuran globula lemak dan distribusinya dalam sistem emulsi susu. Diameter globula lemak susu kambing berkisar antara 0.73 s/d 8.58 µm dengan 90% partikel berukuran kurang dari 5.21 µm sedangkan pada sapi antara 0.92 s/d 15.75 µm. Akibatnya, luas area permukaan susu kambing lebih tinggi dibandingkan dengan susu sapi (21,778 vs 17,117 cm2/ml). Ukuran partikel yang lebih kecil memungkinkan partikel lemak tersebar lebih merata dan susu lebih homogen (Attaie & Richter, 2000). Susu kambing mengandung asam amino cysteine yang lebih tinggi dibanding susu sapi (83 vs 28 mg/100g) (Barrionuevo et al., 2002).

Ditinjau dari komposisi asam lemak, susu kambing mengandung beberapa asam lemak yang lebih tinggi dibanding susu sapi yaitu asam butirat (C4:0), kaproat (C6:0), kaprilat (C8:0), kaprat (C10:0), laurat (C12:0), miristat (C14:0), palmitat (C16:0), linoleat (C18:2); namun lebih rendah pada kandungan asam stearat (C18:0), dan oleat (C18:1) (Haenlein, 2004; Park et al., 2007). Susu kambing merupakan susu yang kaya akan trigliserida rantai sedang/menengah (medium-chain trigyceride, MCT) atau asam lemak dengan 6-10 atom karbon yaitu caproic (C6:0), caprylic (C8:0) dan capric acid (C10:0). Ketiga jenis asam lemak tersebut menyusun sampai dengan 15-18% pada susu kambing tetapi hanya 5-9% pada susu sapi (Sanz Sampelayo et al., 2007).

Aspek lain yang membedakan susu kambing dari susu sapi adalah aromanya yang khas. Aroma khas susu kambing disebabkan oleh kandungan asam lemak spesifik yaitu caproic C6), caprylic (C8) dan capric (C10) (Park et al., 2007). Selain itu, kasein susu kambing didominasi oleh β-casein (38% dari total kasein) sedangkan pada susu sapi didominasi oleh αsl-kasein (55% dari total kasein) (Park, 2001). Susu kambing juga memiliki stabilitas panas yang rendah pada kondisi pH susu normal (6.6-6.7), sehingga perlakuan panas pada susu kambing, misalnya proses UHT, menjadi lebih sulit dibanding dengan susu sapi (Bouhallab et al., 2002; Raynal-Ljutovac et al., 2007).

Banyak penelitian menunjukan bahwa susu kambing (segar) tidak hanya menyediakan zat-gizi makro bagi orang yang mengkonsumsinya, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan (memiliki therapeutic properties), misalnya untuk mengatasi kasus gangguan penyerapan dalam usus (malabsorption syndrom) (Barrionuevo et al., 2002; Haenlein, 2004; Park, 1994). Percobaan pada tikus menunjukkan bahwa kelompok tikus yang diberi susu kambing mampu menyerap mineral Fe dan Cu dalam jumlah yang lebih banyak dibanding kelompok tikus yang diberi susu sapi. Hal tersebut disebabkan tingginya kandungan asam amino sistein pada susu kambing yang dapat meningkatkan penyerapan Fe oleh usus halus (Barrionuevo et al., 2002). Selain itu, penelitian juga menunjukan bahwa susu kambing menyebabkan reaksi alergi yang lebih rendah (hypoallergenic) daripada susu sapi (El-Agamy, 2007; Park, 2009). Sebanyak 40 -100% orang yang alergi susu sapi (CMA, cow’s milk allergy) dapat mentoleransi susu kambing dengan baik. Alergi susu sapi ditandai dengan timbulnya rhinitis, eksim, muntah-muntah, sesak nafas dan sakit kepala. Penyebab alergi susu sapi diduga adalah protein β-lactoglobulin (bobot molekul 36000) merupakan protein utama pada whey susu sapi namun tidak ditemukan pada air susu manusia (Park, 2009).

 

Artikel Review oleh Juni Sumarmono, Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Saran penulisan sumber:

Sumarmono, J. 2012. Karakteristik dan manfaat susu kambing. E-paper. Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. http://panganhewani.blog.unsoed.ac.id (diakses tanggal….)